ASSALAMUALAIKUM... WELCOME TO.... Marzuxce.blogspot.com...."Ya Allah...Hanya Padamu Ku Temui Cinta Sejati"...

Tuesday, June 1, 2010

..::Tidur Yang Sunat Dikejutkan::..


  Mengejutkan orang yang tidur disunatkan sekiranya orang itu tidur dalam keadaan berikut:

Pertama: Seorang yang tidur di masjid dan waktu solat sudah tiba. Ini berdasarkan hadis Abu Bakrah ra, beliau berkata:

خرجت مع النبي صلى الله عليه وسلم لصلاة الصبح فكان لا يمر برجل إلا ناداه
بالصلاة أو حركه برجله


“Aku keluar bersama Nabi saw untuk menunaikan solat subuh. Beliau tidak lalu pada mana-mana lelaki melainkan akan menyerunya untuk solat atau menggeraknya untuk solat dengan kakinya.”
(Hr Abu Daud 1246 – semua perawinya thiqah)



Kedua: Orang yang tidur di hadapan orang yang solat kerana menggangu orang yang solat.

Ketiga: Tidur diatas permukaan bangunan tanpa penghadang. Rasulullah saw bersabda:
من بات على ظهر بيت ليس له حجار فقد برئت منه الذمة
“Sesiapa yang tidur diatas permukaan bangunan tanpa ada penghadang (dari jatuh bangunan), sesungguhnya telah terlepas dari tang gungjawab mana-mana pihak (sekiranya jatuh). (Hr Abu Daud – semua perawinya adalah thiqah)

Keempat: Tidur dalam keadaan separuh badan terkena cahaya matahari dan setengah lagi tidak kena. Nabi saw bersabda:
إذا كان أحدكم في الشمس فلقص عنه الظل وصار بعضه في الشمس وبعضه في الظل فليقم
“Apabila salah seorang kamu berada di bawah pancaran matahari, kemudian matahari menaik dan sebahagian tubuh mu terkena pancaran matahari dan sebahgian yang lain tidak kena , hendaklah dia beredar..” (Hr Abu Daud – semua perawinya thiqah)

Kelima:
Tidur waktu subuh. Nabi saw bersabda:


الصبحة تمنع الرزق



“Tidur subuh menegah rezki.”
(Hr Ahmad – sanad lemah)
Umar bin Abdul Aziz apabila melihat anaknya sedang tidur waktu subuh, beliau mengejutkannya dan berkata:
الأرزاق تقسم وأنت نائم
“Rezeki dibahagi-bahagikan sedangkan engkau tidur.”

Keenam: Tidur sebelum isya kerana makruh tidur waktu itu. Ini disebut dalam hadis yang panjang, riwayat dari Abi Bakrah ra dimana beliau berkata:
كان يكره النوم قبلها والحديث بعدها
“Baginda tidak suka tidur sebelum solat isya dan sembang-sembang selepasnya.” (Hr Bukhari - sahih)

Ketujuh: Tidur lepas solat asar. Nabi saw bersabda:

من نام بعد العصر فاختلس عقله فلا يلومن إلا نفسه

" Sesiapa yang tidur selapas solat asar dan hilang akalnya , janganlah dia mencela melainkan dirinya.” (Hr Abu Ya’la – Sanad lemah)

Kelapan: Tidur berseorangan di rumah. Hukum ini disebut oleh al-Hulaimi dalam kitabnya Al-Minhaj Fi Syu’abil Iman.

Kesembilan: Perempuan yang tidur menelentang. Ini kerana ianya makruh seperti yang disebut dalam kitab yang sama. Umar bin Abdul Aziz telah menegah anaknya yang tidur sedemikian.



Kesepuluh:
Seseorang yang tidur meniarap. Baginda melihat seorang lelaki meniarap. Lalu baginda bersabda:

إن هذه ضجعة يبغضها الله ورسوله
Maksudnya: “Sesungguhnya ini adalah cara baring yang dimurkai oleh Allah dan Rasulnya.” (Hr Tirimizi dan Ahmad-Hasan Lighairihi)

Abu Umamah r.a berkata: Nabi s.a.w lalu dekat seorang lelaki yang tidur meniarap di Masjid. Lalu baginda memukulnya dengan kakinya dan berkata:

قم واقعد فإنها نومة جهنمية
Maksudnya: “Bangunlah kamu dari tidur dan duduklah sesungguhnya ini adalah cara tidur ahli neraka jahannam.” (Hr Ibnu Majah)


Kesebelas: Mengejutkan orang tidur untuk bangun qiamullail. Nabi saw bersabda:

رحم الله رجلا قام من الليل فصلى وأيقظ امرأته فإن أبت نضح في وجهها الماء رحم الله امرأة قامت من الليل فصلت وأيقظت زوجها فإن أبى نضحت في وجهه الماء

“Allah merahmati lelaki yang bangun malam, menunaikan solat dan mengejutkan isterinya. Sekiranya isterinya enggan, dia akan merenjiskan air pada muka isterinya.
Allah merahmati wanita yang bangun malam, menunaikan solat dan menegejutkan suaminya. Sekiranya suaminya enggan, dia akan merenjis air ke muka suaminya. (Hr Abu Daud 1308 – perawi-perawinya thiqah)


Kedua belas: Mengejutkan orang yang tidur untuk bangun sahur. Nabi saw bersabda:

إن بلالا ينادي بليل فكلوا واشربواحتى ينادي ابن مكتوم


“Sesungguhnya bilal akan mengumandangkan azan pada waktu malam (sebelum subuh), maka makanlan dan minumlah sehingga Ibnu Maktum mengumandangkan azan subuh.” (Hr Muslim)

Rujukan: Tashilul Maqasid li Zuwwarul Masjid oleh Ibnul Ammad, Aunul Ma’bud oleh al-Abadi dan An-Nihayah oleh Ibnul Kathir.
http://apalasudahjadi.blogspot.com/search/label/Renungan

..::AIRMATA RASULULLAH SAW::..


Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. 'Bolehkah saya masuk?' tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, 'Maafkanlah, ayahku sedang demam', kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, 'Siapakah itu wahai anakku?'
'Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,' tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.
Seolah-olah bahagian demi! bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

'Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia.
Dialah malaikatul maut,' kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
'Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?', tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
'Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.
'Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,' kata Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. 'Engkau tidak senang mendengar khabar ini?', tanya Jibril lagi.


'Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?'
'Jangan khawatir, wahai Rasul ! Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat
Muhammad telah berada di dalamnya,' kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik.

Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. 'Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.'
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

'Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?'
Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
'Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,' kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.

'Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.'
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, ! Ali segera mendekatkan telinganya. 'Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku'
'peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.'

Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

'Ummatii,ummatii,ummatiii?' - 'Umatku, umatku, umatku'
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.
Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi

Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

..::Dua Waktu Tidur Yang Dilarang Rasul::..


Tidur menjadi sesuatu yang esensi dalam kehidupan kita. Karena dengan tidur, kita menjadi segar kembali. Tubuh yang lelah, urat-urat yang mengerut, dan otot-otot yang dipakai beraktivitas seharian, bisa meremaja lagi dengan melakukan tidur.


Dalam Islam, semua perbuatan bisa menjadi ibadah. Begitu pula tidur, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dalam Al-Quran, Allah swt pun menyuruh kita untuk tidur. Namun, ternyata ada dua waktu tidur yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk tidak dilakukan.


1. Tidur di Pagi Hari Setelah Shalat Shubuh


Dari Sakhr bin Wadi’ah Al-Ghamidi radliyallaahu ‘anhu bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :


”Ya Allah, berkahilah bagi ummatku pada pagi harinya” (HR. Abu dawud 3/517, Ibnu Majah 2/752, Ath-Thayalisi halaman 175, dan Ibnu Hibban 7/122 dengan sanad shahih).
Ibnul-Qayyim telah berkata tentang keutamaan awal hari dan makruhnya menyia-nyiakan waktu dengan tidur, dimana beliau berkata :


“Termasuk hal yang makruh bagi mereka – yaitu orang shalih – adalah tidur antara shalat shubuh dengan terbitnya matahari, karena waktu itu adalah waktu yang sangat berharga sekali. Terdapat kebiasaan yang menarik dan agung sekali mengenai pemanfaatan waktu tersebut dari orang-orang shalih, sampai-sampai walaupun mereka berjalan sepanjang malam mereka tidak toleransi untuk istirahat pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Karena ia adalah awal hari dan sekaligus sebagai kuncinya. Ia merupakan waktu turunnya rizki, adanya pembagian, turunnya keberkahan, dan darinya hari itu bergulir dan mengembalikan segala kejadian hari itu atas kejadian saat yang mahal tersebut. Maka seyogyanya tidurnya pada saat seperti itu seperti tidurnya orang yang terpaksa” (Madaarijus-Saalikiin 1/459).


2. Tidur Sebelum Shalat Isya’


Diriwayatkan dari Abu Barzah radlyallaahu ‘anhu : ”Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membenci tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya” (HR. Bukhari 568 dan Muslim 647).


Mayoritas hadits-hadits Nabi menerangkan makruhnya tidur sebelum shalat isya’. Oleh sebab itu At-Tirmidzi (1/314) mengatakan : “Mayoritas ahli ilmu menyatakan makruh hukumnya tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya. Dan sebagian ulama’ lainnya memberi keringanan dalam masalah ini. Abdullah bin Mubarak mengatakan : “Kebanyakan hadits-hadits Nabi melarangnya, sebagian ulama membolehkan tidur sebelum shalat isya’ khusus di bulan Ramadlan saja.”


Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul-Baari (2/49) : “Di antara para ulama melihat adanya keringanan (yaitu) mengecualikan bila ada orang yang akan membangunkannya untuk shalat, atau diketahui dari kebiasaannya bahwa tidurnya tidak sampai melewatkan waktu shalat. Pendapat ini juga tepat, karena kita katakan bahwa alasan larangan tersebut adalah kekhawatiran terlewatnya waktu shalat.”(sumber:eramuslim.com)

Search This Blog

Assalamualaikum | Welcome to My Blog | Sila Masukkan Address Blog Anda Dibawah Ini | Terima Kasih
Related Posts with Thumbnails